Fenomena Vtuber: Apakah Mereka Wayang Kulit Masa Depan?

Fenomena Vtuber: Apakah Mereka Wayang Kulit Masa Depan?3 min read

Vtuber

SobatKutu pastinya kenal dong dengan Wayang Kulit? Boneka kulit tradisional Indonesia satu ini di zaman dulu mampu memikat perhatian para penontonnya dengan memadukan cerita, teknik dan seni, serta unsur budaya turun-menurun yang kental. Melalui kisah-kisah hidup dewa, pahlawan, dan mitos macam Ramayana dan Mahabharata, para penonton pun terhanyut ke ceritanya yang “hidup.” Tapi tentunya kamu juga tahu dong kalau Wayang Kulit sudah tidak populer sama sekali di kalangan anak muda Indonesia?

Nah, menariknya, menurut tim KotaKutu, di tengah popularitas hiburan elektronik macam Vtuber dan avatar virtual mereka, relevansi abadi dari bentuk seni kearifan lokal seperti Wayang Kulit bisa tetap bersinar loh! Di satu sisi, Vtuber memukau penonton dengan persona karakter digital dan konten interaktif. Di sisi lain, bentuk hiburan dari stream dan video Vtuber ini merefleksikan praktik artistik dan tradisional dari seni boneka sekelas Wayang Kulit. ‘Gimana bisa konsep utama Wayang Kulit tetap terus relevan dan bisa bersimpangan dengan era popularitas Vtuber di lanskap hiburan digital? Ada enam poin menarik nih, SobatKutu. Yuk langsung baca di bawah.

1. Menggunakan Representasi Karakter dalam Menjabarkan Kisah-kisahnya

Baik Wayang kulit maupun Vtuber menggunakan “avatar” atau sosok karakter sebagai representasi tokoh dalam aktivitas masing-masing. Dalam Wayang, boneka-boneka tersebut bertindak sebagai avatar dari dalang yang menyampaikan cerita. Sedangkan “dalang” di balik karakter Vtuber macam Kobo Kanaeru dan Usada Pekora menggunakan avatar virtual untuk berinteraksi dengan audiens dan menciptakan konten video.

Fenomena Vtuber: Apakah Mereka Wayang Kulit Masa Depan?

2. Stream Vtuber dan Wayang adalah Pertunjukan dengan Fokus Penyampaian Cerita

Baik Wayang maupun Vtuber mengandalkan penyampaian cerita sebagai elemen inti dari pertunjukan mereka. Pagelaran Wayang Kulit menyampaikan teks-teks agama atau cerita rakyat lewat narasi tradisional dan gerakan-gerakan kreatif bonekanya. Sedangkan Vtuber sering kali membuat narasi mereka sendiri atau mengadopsi karakter dengan kepribadian dan latar belakang yang unik.

3. Bentuk Ekspresi Kreatif dalam Pertunjukan Statis di Stream dan Pagelaran

Dalang Wayang dan Vtuber sama-sama terlibat dalam ekspresi kreatif dalam pertunjukan yang terbilang “statis.” Tidak seperti konser musik atau pertunjukkan panggung yang memungkinkan kita melihat langsung aksi para senimannya. Dalang Wayang menghidupkan boneka-boneka tersebut melalui manipulasi yang terampil dan vokalisasi yang menghanyutkan penonton. Di sisi lain, Vtuber menggunakan avatar virtual mereka untuk menghibur dan berinteraksi dengan audiens melalui livestream, video, dan konten lainnya.

4. Integrasi Teknologi dalam Penuturan Cerita

Jangan salah, seperti halnya Vtuber, Wayang Kulit juga menggabungkan teknologi ke dalam unsur kearifan lokal klasik mereka masing-masing. Konsep awal Wayang yang terbilang sederhana hanya memanfaatkan cahaya dan layar, bisa berkembang dengan teknik modern seperti penggunaan proyektor, efek pencahayaan yang lebih ciamik, dan sistem audio membahana. Demikian pula, tentunya Vtuber memanfaatkan teknologi motion capture dan animasi yang dibuat oleh komputer untuk mengendalikan avatar virtual mereka dan menciptakan konten yang menarik.

Fenomena Vtuber: Apakah Mereka Wayang Kulit Masa Depan?

5. Menciptakan dan Melibatkan Komunitas dalam Penuturannya

Pertunjukan Wayang dan aktivitas Vtuber keduanya membangun rasa keterlibatan komunitas. Pagelaran Wayang Kulit seringkali dilakukan dalam rangka kegiatan perkumpulan warga, festival, atau acara budaya, memberikan pengalaman yang bisa dinikmati bersama-sama oleh para penontonnya. Vtuber berinteraksi dengan penggemar mereka melalui livechat dan platform media sosial, menciptakan basis penggemar yang setia dan mempererat rasa komunitas di antara para pengikutnya.

6. Pelestarian Budaya dan Inovasi Melalui Pagelaran Wayang dan Stream Vtuber

Baik Wayang maupun Vtuber berkontribusi dalam pelestarian budaya dan inovasi. Wayang Kulit sangat terkait dengan kearifan lokal Indonesia, mempertahankan cerita tradisional, musik, dan kerajinan tangan. Vtuber, meskipun fenomena modern, berkontribusi pada kemajuan teknologi dan hiburan digital, sambil menggabungkan unsur-unsur ekspresi budaya dan penceritaan. Selain itu, Vtuber tetap memperkenalkan budaya tradisional, seperti kostum Kureijii Ollie yang mengambil tema Ondel-ondel.

Fenomena Vtuber: Apakah Mereka Wayang Kulit Masa Depan?

Meskipun Wayang Kulit dan Vtuber berbeda dalam konteks budaya dan implementasi teknologi mereka, hal-hal ini menunjukkan beberapa hubungan penting antara kedua aktivitas tersebut, termasuk penggunaan avatar, penceritaan, ekspresi kreatif, integrasi teknologi, keterlibatan komunitas, serta kontribusi mereka dalam pelestarian budaya dan inovasi.

Foto-foto dari: Tyler Blodgett untuk Jakarta Post, Raymond untuk Timlo.net.

26 thoughts on “Fenomena Vtuber: Apakah Mereka Wayang Kulit Masa Depan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *